Diposkan pada sukasukasuka

Mendadak Trisik

.mendadak aku cinta pantai.pasir hitam bijih besi.sengketa yang belum usai.
.mendadak aku cinta pantai.gunung-hutan ku khianati.tak lagi di hati.
.mendadak aku cinta pantai.panas belaian matahari.aku tak peduli.
.mendadak aku cinta pantai.tujuan yang pasti.skripsi harus jadi.

.delta.
.muara.
.laguna.
.tapak langkah menuju ke sana.

.pantai.pantai.pantai.
.sampah eceng kering.ranting-ranting.dan orang mancing.

.tiba-tiba.
.Trisik sangat mempesona.

2009

Diposkan pada syair hening

Ziarah Aku

Di cermin itu,
Terpampang sosok asing bagiku
Muka tirus.
Rambut gondrong.
Kurus.

Sepuluh tahun yang lalu..
Ku kenal dekat
Begitu polos, ceria, dan senyum itu.
Ya…senyum yang selalu tersungging dari bibirmu.

Sepuluh tahun yang lalu..
Ketika sang surya kembali ke peraduan,
Peci hitam dikepalamu,
Baju koko putih,
Plus sarung tenun samarinda,
Begitu bangga kau memakainya sambil berkaca,
Tangan kananmu menenteng mushaf pula,
Pemberian bapakmu,waktu kau sunat dulu,
Mau kemana kau ?, tanyaku.
“ngaji !, di rumah pak kyai”, jawabmu sambil berlari.
Ya..sepuluh tahun yang lalu
Sekarang.

Di cermin itu,
Terpampang sosok asing bagiku
Muka tirus.
Rambut gondrong.
Kurus.

Ah..kesederhanaan itu.
Ingin ku sepertimu lagi.

2009

Diposkan pada syair hening

Untukmu Saja

I
Mengumpulkan rindu yang berserak
rindu ilalang yang belum tunai
kepada embun,

Malam hanya menjanjikan kabut
buah selingkuh gerimis
dengan angin,

Menggantung pada senja
sepotong senyum rembulan dan
sepasang kelopak mata sendu

Kamu, Prasasti abadiku.

II
Juni yang kemarau, dan hujan. “Udan salah mongso”, katamu.
tetapi tidak bagiku,
dua yang berjarak tertangkap mata,
hanya rindu yang sederhana;
“Kukirim salam rindu untukmu Bumi”, sapa lirih Langit.

Ma’asyauq

III
Mata hujan, senyum rembulan, secangkir kopi; kamu.

Pesantren Zulfikar, 060613

Diposkan pada syair hening

Embun Ilalang

Gambar

bersandarlah,
lelah tubuhmu memikul rindu
menjamah jagad semesta
mengusap kerontang berwajah kelu

merebahlah,
pangkuanku belum renta
mengurai rindumu hingga
shubuh merah merekah

picingkan matamu menengadah
riuh perenjak meramu canda
alam raya memeluk, mesra
mengiring senyuman luruh mengudara

rindumu untuk kehidupan
:embun

Pesantren Zulfikar, 070412

Diposkan pada sukasukasuka

Mas Mantri Menjenguk Tuhan (Lagi)

Mohon maaf,

Apa yang saya tuliskan di bawah ini bukan tulisan saya. Tulisan ini adalah tulisan utuh karya Ahmad Tohari dalam kumpulan kolomnya (Mas Mantri Menjenguk Tuhan. 1995.Risalah Gusti). Saya tulis utuh di sini alasannya adalah karena saya SUKA tulisannya, dan saya memang penggemarnya. Hehehe.. Selain itu, tulisan ini berkaitan dengan momen lebaran.

Mumpung masih dalam bulan syawal.. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H.

Pada hari lebaran Jum’at lalu, mas mantri tidak muncul di tempat salai Id. Padahal boleh dibilang semua warga kampung tumplek blek di sana dalam suasana kudus sekaligus gembira. Ketidakhadiran Mas mantri banyak dipertanyakan orang. Ya, apabila pada kesempatan yang agung seperti salad Id lajang tua itu tak terlihat, pasti ada sesuatu yang terjadi atas dirinya. Maka setelah selesai salat dan bersalaman dengan sesama warga kampung, saya langsung berangkat menuju rumah Mas Mantri. Den Besus dan Kang Martopacul yang mengetahui rencana saya sontak bergabung.

Sampai di tujuan, kami mendapati rumah Mas Mantri sepi. Pintu depan tertutup. Anehnya, dari dalam terdengar suara radio menggemakan takbir. Den Besus memanggil-manggil pemilik rumah ; tak ada jawaban. Kami saling berpandangan karena kami mulai cemas, jangan-jangan telah terjadi sesuatu yangserius terhadap sahabat kami itu. Saya usul agar Pak RT diberitahu; sebab siapa tahu ia kena musibah tersengat listrik misalnya. Ya, saya bergerak menuju ke rumah Pak RT. Tetapi tiba-tiba kami mendengar suara orang terbatuk dari sebuah gubuk agak jauh di belakang rumah Mas Mantri. Itu rumah liliput yang dihuni oleh Nek Trimo, yang hidup sebatang kara. Kami bertiga sepakat pergi ke gubuk itu dan menemukan Mas Mantrisudah berada di sana. Anehnya Mas Mantri sudah necis dengan kain sarung dan kopiah baru. Baju takwanya putih bersih seperti orang yang siap pergi ke masjid.

“Kok sampeyan malah di sini?” tanya Den Besus. “Kenapa tidak ikut salad Id?”

Mas Mantri tidak segera menjawab karena Nek Trimo yang tergeletak lemah di balai-balai bambu kembali terbatuk, dan terus terbatuk lalu mengerang. Sosok tubuhnya yang tanpak sangat ringkih hampir lenyap di balik selimut kain lusuh. Kami merassa terjebak dalam suasana haru. Apalagi setelah kami mengetahui lebih jelas keadaan di dalam gubuk itu; tak ada makanan atau minuman apalagi obat-obatan.

“Tadi pagi sebenarnya saya sudah siap berangkat ke tempat salat Id. Tetapi karena mendengar Nek Trimo terus terbatuk saya datang kemari.”

“Lalu Sampeyan tak tega meninggalkan dia seorang diri?” tanya saya.

Mas Mantri mengangguk, dan wajahnya kelihatan ragu. “Karena menemani Nek Trimo sehingga tidak bisa salat Id, apakah saya salah?” tanya Mas Mantri dengan pandangan mata tertuju kepada saya. Den Besus dan Kang Marto pun berbuat sama sehingga saya merasa jadi pusat perhatian.

Entahlah, pertanyaan Mas Mantri terasa langsung menusuk dasar iman saya. Ya Tuhan, saya merasa malu karena tiba-tiba saya teringat pernyataan Tuhan sendiri bahwa barang siapa menjenguk si sakit, si haus dan si lapar, maka berarti dia telah menjenguk Tuhan. Dan pagi ini ternyata bukan saya yang telah melakukan kesalehan itu melainkan Mas Mantri. Saya juga merasakan adanya ironi yang tajam karena sangat boleh jadi Mas Mantri justru belum tahu akan adanya pernyatan Tuhan itu.

Nek Trimo terbatuk lagi, kering dan dalam.

“Wong ditanya kok malah bengong.” Pertanyaan Den Besus mengejutkan saya.

“Ya, Den. Saya sangat tak percaya tak ada kesalahan apa pun pada diri Mas Mantri yang tidak pergi salat Id demi menemani Nek Trimo.”

“Ah, apa iya!” ujar Den Besus. “Meninggalkan salat Id untuk menjaga orang sakit, apakah tidak berarti mengutamakan kepentingan manusia di atas kesetiaan terhadap Tuhan?”

Lagi, dasar iman saya serasa tertusuk, kali ini oleh pertanyaan Den Besus. Karena gelisah, saya tidak bisa segera membuka mulut. Pikiran saya malah melayang. Oh, alangkah banyak orang lupa bahwa hakikat ibadah adalah penyebarluasan kasih sayang Ilahi di dunia agar manusia bisa berjumpa dengan Tuhan dalam Rahmatullah kelak. Dan pagi ini Mas Mantri memang telah meninggalkan salat Id. Namun sebagai penggantinya lajang tua itu telah melakukan ibadah maknawi yang sangat tinggi nilainya. Mas Mantri telah menunaikan silaturahmi paling hakiki antarsesama manusia, sekaligus menziarahi Tuhan seperti telah dinyatakan dalam sabda Dia sendiri. Silaturahmi semacam itu terang lebih maknawi daripada salat (sunat) Id, serta salam-salaman yang masih bersifat simbolis.

“Eeee, kamu kok jadi pelamun?” tegur Den Besus. Tadi saya bertanya, apakah tindakan Mas Mantri pagi ini tidak berarti menomorsatukan kepentingan manusia dan menomorduakan kesetiaan terhadap Tuhan?”

“Saya yakin tidak,” jawab saya sambil menelan ludah. “Soalnya begini, apabila sampai terjadi Nek Tromo meninggal dalam keadaan merana, orang sekampung, terutama Mas Mantri yang paling berdekatan palin berdosa. Bukankah seorang seperti Nek Trimo itu merupakan amanat Tuhan bagi kita semua? Lagi pula salat Id hukumnya cuma sunah. Sementara, menyantuni fakir miskin hukumnya wajib. Jadi pagi ini Mas Mantri telah meninggalkan pekerjaan sunah demi melakukan pekerjaan wajib. Maka tidak salah, bukan?”

Den Besus diam dan saya kira pegawai Kantor Kecamatan itu bisa memahami omongan saya.

“Kita tidak layak terlalu banyak omong di hadapan Nek Trimo yang sedang sakit,” Mas mantri tiba-tiba bicara. “Kita harus segera melakukan pertolongan nyata. Saya mau pergi ke kios Mbak Nyus, cari obat. Saya minta Kang Marto pergi ke kampung sebelah untuk memberitahu kerabat Nek Trimo.”

“Saya akan mengambil termos dan makanan,” kata saya.

“Lalu saya kebagian apa?” tanya Den Besus.

“Sementara kami pergi, tungguilah Nek Trimo di sini,” jawab Mas Mantri.

“Jadi kita tidak melakukan silaturahmi dan salam-salaman? Ini kan hari lebaran? Tanya Den Besus lagi.

“Ya inilah silaturahmi yang sebenar-benarnya,” jawab Kang Marto.

Ah ternyata petani lugu itu bisa menjawab sangat tepat pertanyaan Den Besus. Kemudian Mas Mantri, saya dan Kang Marto berangkat. Pagi ini kami merasakan sentuhan hakikat persaudaraan sejati. Karena, pagi ini kami mengikuti Mas Mantri menjenguk Tuhan.

Diposkan pada Cerpen

Untuk Sahabat Ulil

Sejenak, malam ini aku ingin berbagi.

Tentang hari ini, kemaren, dan esok.

Tentang keluh kesah dan mimpi-mimpi.

Inginku, kau ada di sini.

Biar kukeluarkan, beban.

 

Tapi,

Kau saat ini, tak ada di sini.

Sahabat.

 

Masih melekat di kepalaku, beberapa waktu lalu.

Kita saling bercerita, tentang mimpi-mimpi kita.

Mimpi-mimpi masa muda.

Ingin taklukkan dunia, begitu ikrar kita.

Seolah kita ingin mejadi Raja.

 

Tapi,

Kau saat ini, tak ada di sini.

Sahabat.

 

Entah, kau masih ingat atau tidak.

Di hati, masih terpatri ; KAU SAHABATKU.

Pesantren Zulfikar, 04072011

Diposkan pada Uncategorized

Fragmen hati

Maafkan aku, Kekasih

Malam ini

Kita tidak dapat bersilaturahmi hati

Karena hujan mewujud jeruji

penjarakan rindu dalam sunyi

 

Maka,

seperti biasa

marilah kita bersapa dalam doa

 

Pesantren Zulfikar, 240111

Diposkan pada syair hening

Mozaik Desember : Melukis Hujan

Aku kembali duduk di ruang depan, untuk melukis hujan, seperti apa yang kulihat, dari balik kaca. Kau hujan, memecah kebisuan rerumputan. Daun baambu berirama bersama sang bayu, hendak bersapa denganmu. Sepertinya di bawah sana ada yang tengah berpesta pora, Buffo melanotictus rajin melahap mangsa, para cacing penghuni seresah.

Kau masih saja menyapa, menyapa tanah, menyapa sawah, menyapa alam. Apa yang hendak kau kabarkan dari atas sana?, dari mendung, dari angin menjuru yang mengumpulkanmu, atau dari Tuhan yang menitahkan. Semoga kabar gembira, bukan kabar duka. Masih malu-malu matahari berkelambu kelabu, warna mendung singgasanamu, bak perawan hendak dipinang, tertutup muka oleh tangan.

Allahu Akbar…Allahu Akbar…

Allahu Akbar… Allahu Akbar…

Suara Mbah Marji memecah celah antara rerintik gemulaimu,  menyeru seruan Tuhanmu dari surau yang berjamaah tak lebih dari tujuh.

Kau hujan, bersujud, merebah tanah, berhenti berkabar. Kau memuji Ilahi.

Mendung sirna, surya kembali sumringah.

Ruang depan, 05122010

Diposkan pada syair hening

Rasa Kata

Aku kebingungan mencari kata, kata untuk melukis rasa,

tiada kata tiada rasa, tinta pun tak ada, yang kan menggores kanvas jiwa.

Jiwa sudah berkerak, berlumut, berkabut kalut.

Pesantren Zulfikar, 26112010